Senin, 31 Oktober 2011

AVR ATtiny2313 Application Board


Salah satu tipe AVR yang populer adalah ATtiny2313. Meski tidak dilengkapi satu pun channel ADC, tapi ATtiny2313 menjadi pilihan banyak praktisi untuk membuat aplikasi yang tidak membutuhkan pembacaan besaran analog. Mikrokontroler ini juga dibuat sebagai pengganti AT90S2313 yang sudah tidak direkomendasikan lagi oleh ATMEL. Spesifikasi ATtiny2313 selengkapnya dapat dibaca di Spesifikasi ATtiny2313 dan Deskripsi Pin ATtiny2313.
Berikut adalah gambar skematik dan layout PCB yang saya gambar menggunakan EDA Client 3.2 dan Protel 1.5. Software kuno memang, tapi masih mbois kok. Tetep mulus running di 486 dengan Windows 3.11 sampai Pentium-4 dengan WinXP.
Pada rangkaian ini, ATtiny2313 tidak dilengkapi dengan rangkaian RESET dan rangkaian CLOCK eksternal. Jadi sebaiknya rangkaian ini tidak digunakan pada lingkungan operasional yang ekstrim. Namun demikian, cukuplah jika digunakan untuk aplikasi-aplikasi sederhana seperti jam digital atau menggerakkan relay. Enjoy!
tn2313sch
Skematik Mikrokontroler ATtiny2313
tn2313pp
Skematik Power Port dan Decoupling Capacitors
tn2313isp
Skematik ISP Dongle
tn2313brd
Layout PCB ATtiny2313 Application Board
Semoga bermanfaat!

Layout PCB AT89S51/52/53/8252 + RS232 + I2C Port


Layout PCB yang saya suguhkan kali ini adalah layout PCB Minimum System AT89S51/52/53/8252 yang dilengkapi dengan rangkaian antarmuka RS232 dan I2C. Sangat praktis dan tentunya dengan desain yang rapi dengan selalu mengandalkan single-layer saja. Hal ini sengaja untuk memudahkan siapa saja yang ingin membuat PCB ini.
Rangkaian antarmuka RS232 menggunakan IC Maxim MAX232, sementara I2C port hanyalah dua buah jalur I/O dengan resistor pull-up 4K7 ohm yang mewakili jalur SDA dan SCL.
Minimum System ini sangat fleksibel untuk berbagai aplikasi karena semua port I/O memiliki header-header yang siap dikoneksikan dengan rangkaian-rangkaian masukan ataupun keluaran. Pin TxD dan RxD pun dilengkapi dengan jumper sehingga dapat tersambung atau terputus dengan rangkaian MAX232. I2C Port sebanyak 4 buah siap digunakan untuk melakukan komunikasi dengan piranti I2C lain semacam EEPROM Serial, RTC Serial, ADC Serial, atau I/O Expander.
Minimum system ini juga dilengkapi dengan 4 buah power port 5V yang memudahkan pencatuan rangkaian-rangkaian lainnya.
Di bawah ini adalah tampilan layout PCB-nya berikut dengan foto minimum system dalam bentuk rangkaian yang sesungguhnya. Maaf, jepretannya agak jelek… :D
Nah, jika Anda berminat, saya akan mengirimkan layout PCB di atas dalam format PDF siap cetak langsung ke alamat email Anda. All you have to do is ask… :D
Nah, jangan sungkan-sungkan, silakan tinggalkan komentar di bawah tulisan ini.
Selamat belajar!
:D

Layout PCB Minimum System ATMEL 89S51/89S52/89S53/89S8252


Tidak semua pemula memiliki modal yang cukup untuk membeli seperangkat Microcontroller Experimenter-Board siap pakai yang harganya ratusan ribu rupiah. Tapi modal kecil pun tak menjadi soal, karena untuk belajar mikrokontroler, kita selalu bisa membuat sendiri baik perangkat keras maupun perangkat lunaknya. Tapi sejujurnya, untuk perangkat lunak sebaiknya download saja dari internet, tinggal pilih kok! :)
Btw, sekedar mengingatkan bahwa 100 ribu juga tergolong ratusan ribu lho.Hihihi… :D
Nah, jika Anda kebetulan ingin bereksperimen dengan mikrokontroler AT89S51/52/53/8252, dan membutuhkan layout PCB Minimum System untuk mikrokontroler tersebut, maka Anda berada pada postingan yang tepat. Atau jika Anda sedang mengerjakan proyek berbasis mikrokontroler tersebut, maka postingan ini juga tepat untuk Anda.
Layout PCB yang saya rancang memiliki beberapa kelebihan antara lain:
  • berukuran relatif kecil, kurang-lebih 9×5 cm2
  • memiliki header konektor untuk masing-masing port
  • dilengkapi dengan rangkaian penyearah gelombang-penuh dan regulator tegangan 5V tanpa filter yang spesial, jadi jangan gunakan modul ini untuk keperluan industri tanpa menggunakan power supply yang baik. Dan jangan pula digunakan pada lingkungan yang rawan muncul ‘spike’, misalnya dekat dengan motor besar
  • memiliki 2 buah Power Port 5V yang siap untuk mensuplai modul lain
  • layout single-layer yang mudah dibuat sendiri PCB-nya
Nah, berikut adalah layout PCB-nya.
Jika Anda berminat silakan langsung mengunjungi situs: http://telinks.ds4a.com.
Daftar Komponen
  • IC AT89S51/52/53/8252 + Soket 40 pin
  • Resistor 1/4watt ukuran 1K dan 10K
  • Respack 8 x 10K
  • Crystal Frekuensi 12MHz
  • IC Regulator Tegangan LM7805CT
  • 2 buah diode 1N4002
  • 2 buah kapasitor mylar 100nF
  • 2 buah kapasitor keramik 30pF
  • Kapasitor 470uF/25V
  • LED 5mm warna merah
  • Header Tunggal untuk P1, P2, P3, P4, dan ISP
  • 2 buah D-Plug 2-pin untuk powerport +5V
  • D-Plug 3-pin untuk 9-12VAC
  • 4 buah spacer 10mm
  • Trafo 1A CT 12V + Kabel
Jika Anda menginginkan file layout dalam format PDF, ketik permintaan Anda di kolom komentar di bawah tulisan ini.
Dapatkan juga layout PCB yang lain:
Selamat belajar!
:D

Rangkaian & Layout PCB Catu Daya DC 5V dan 12V



Bereksperimen elektronika digital TTL membutuhkan adanya catu daya DC 5V. Tak jarang pula kita membutuhkan catu daya DC 12V untuk keperluan lain, misalnya: menggerakkan relay 12VDC, motor DC 12V, opamp, atau sekedar untuk memutar bor PCB kita.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, kita dapat membeli catu daya tegangan DC dengan beberapa variasi tegangan (multi-voltage regulated DC power supply). Atau dapat juga kita gunakan wall-adaptor 500mA-1A yang dapat kita beli di toko peralatan elektronik. Atau dapat juga kita merakit sendiri rangkaian catu daya yang kita butuhkan.
Nah, bagi Anda yang ingin merakit sendiri catu daya tegangan DC 5V dan 12V, Anda dapat menggunakan layout PCB berikut ini. Foto di atas adalah komponen komplit dari papan praktikum yang terdiri dari rangkaian catu daya dan project-board.
Adapun skematik dari rangkaian tersebut adalah:
Sebagai masukan tegangan AC dapat digunakan trafo 2A jenis CT dengan tegangan maksimum keluaran 15-18 VAC. Sebagai regulator digunakan IC 7812 dan 7805 dengan maksimum arus keluaran ±1A.
Sebagai terminal konektor kabel masukan dan keluaran, digunakan PCB Mount Terminal Block dengan model seperti yang ditunjukkan oleh gambar berikut ini.
Rangkaian ini sangat mudah dirakit. Jika Anda berminat, silakan meninggalkan komentar dan saya akan mengirimkan file layout PCB dalam format PDF siap cetak. Foto di bawah adalah catu daya 12V dan 5V yang digabungkan dengan sebuah project-board yang sangat fleksibel untuk bereksperimen. Bagus kan? Hihihi… :D
Oke deh, selamat belajar!
:D
Foto Papan Eksperimen Elektronika
Catu Daya 5V dan 12V Mungil Siap-Pakai
Jika Anda tidak mau repot-repot membuat sendiri catu daya 5V dan 12V, Anda dapat menggunakan catu daya siap-pakai dengan kualitas bagus seperti ditunjukkan gambar dibawah ini.
Catu daya di atas dapat Anda dapatkan melalui situsnya di: http://telinks.ds4a.com.
Selamat berkarya!

Layout PCB AT89S51/52/53/8252 + RS232 + I2C Port


Layout PCB yang saya suguhkan kali ini adalah layout PCB Minimum System AT89S51/52/53/8252 yang dilengkapi dengan rangkaian antarmuka RS232 dan I2C. Sangat praktis dan tentunya dengan desain yang rapi dengan selalu mengandalkan single-layer saja. Hal ini sengaja untuk memudahkan siapa saja yang ingin membuat PCB ini.
Rangkaian antarmuka RS232 menggunakan IC Maxim MAX232, sementara I2C port hanyalah dua buah jalur I/O dengan resistor pull-up 4K7 ohm yang mewakili jalur SDA dan SCL.
Minimum System ini sangat fleksibel untuk berbagai aplikasi karena semua port I/O memiliki header-header yang siap dikoneksikan dengan rangkaian-rangkaian masukan ataupun keluaran. Pin TxD dan RxD pun dilengkapi dengan jumper sehingga dapat tersambung atau terputus dengan rangkaian MAX232. I2C Port sebanyak 4 buah siap digunakan untuk melakukan komunikasi dengan piranti I2C lain semacam EEPROM Serial, RTC Serial, ADC Serial, atau I/O Expander.
Minimum system ini juga dilengkapi dengan 4 buah power port 5V yang memudahkan pencatuan rangkaian-rangkaian lainnya.
Di bawah ini adalah tampilan layout PCB-nya berikut dengan foto minimum system dalam bentuk rangkaian yang sesungguhnya. Maaf, jepretannya agak jelek… :D
Nah, jika Anda berminat, saya akan mengirimkan layout PCB di atas dalam format PDF siap cetak langsung ke alamat email Anda. All you have to do is ask… :D
Nah, jangan sungkan-sungkan, silakan tinggalkan komentar di bawah tulisan ini.
Selamat belajar!
:D

Perancangan Sensor Ketinggian Air Tandon


Otomatisasi pengisian tandon air membutuhkan sensor yang dapat mendeteksi tingkat ketinggian air dalam tandon. Level Sensor istilah umumnya. Banyak produsen yang menyediakan sensor dan kontrolernya dalam satu paket produk. Kalau mau merancang sendiri juga boleh. Malah asik tuh… :D
Sebenarnya mendeteksi level ketinggian air secara elektronik bukanlah hal yang sulit. Kita bisa menggunakan transistor atau opamp untuk mendeteksi ada-tidaknya air yang menyentuk sensor. Tapi secara fisik, boleh jadi tidak mudah.
Mengapa?
Ingat percobaan fisika SMA? Nah, kalau dua batang logam dihubungkan ke sumber tegangan plus dan minus, kemudian dicemplungkan ke air, maka yang terjadi adalah proses elektrolisa seperti gambar dibawah. Saya tidak membahas terjadinya pemisahan hidrogen dan oksigen yang terjadi, dan juga unsur/senyawa lain yang terlibat. Yang perlu diketahui adalah bahwa proses ini mengakibatkan terjadinya korosi dan pengerakan pada elektroda sensor, oleh karenanya perlu dilakukan perawatan secara berkala untuk mencegah terjadinya kesalahan pendeteksian. Selain itu, penggunaan jenis logam untuk elektroda serta pengkondisian pH air juga perlu dilakukan.
Karena proses elektrolisa ini pasti terjadi, maka dalam perancangan rangkaian elektronika serta pengkondisian fisik pada pengimplementasiannya harus dapat meminimalisir efek negatif dari proses elektrolisa tersebut. Kita mulai dari elektrodanya.
Elektroda yang digunakan haruslah yang anti-korosif. Bisa digunakan baja stainless atau bahkan yang telah dilapisi chrome. Jangan menggunakan logam-logam seperti galvanis atau besi. Meskipun demikian, masih diperlukan perawatan berkala, paling lama 1 bulan sekali, untuk menghilangkan kerak-kerak yang terjadi yang dapat mengurangi konduktivitas elektroda.
Selain itu, yang perlu dilakukan lagi adalah mengontrol pH air. Untuk masalah ini memang tidak murah, diperlukan sistem pengendali pH untuk mempertahankan pH air menjadi normal. Tapi, ini cara yang efektif.
Nah, sekarang masuk ke rangkaian elektroniknya. Rangkaian yang saya gunakan hanyalah sebuah pembagi tegangan dan sebuah komparator dengan keluaran logika TTL. Simak rangkaian dan penjelasan berikut ini.
Pendeteksian level ketinggian air dilakukan dengan membaca nilai tegangan yang dihasilkan oleh masing-masing  rangkaian pembagi tegangan yang tersusun oleh resistor R dan  RAir. (RAir  adalah tahanan yang dibentuk oleh tangkai sensor dan tangkai common (T1)). Nilai R dalam hal ini adalah 10K ohm.
  • Vout1 – tegangan keluaran sensor LOWEST.
  • Vout2 – tegangan keluaran sensor LOW.
  • Vout3 – tegangan keluaran sensor MEDIUM.
  • Vout1 – tegangan keluaran sensor HIGH.
Tegangan keluaran yang muncul ketika tangkai sensor tidak terkena air adalah sekitar 4,9 volt.  Akan tetapi ketika tangkai sensor menyentuh air, nilai Vout turun antara 1-2 volt saja.
Perbedaan tegangan yang cukup  jauh  inilah  yang digunakan sebagai acuan pendeteksian dengan  cara membandingkan  nilai Vout dengan suatu tegangan referensi yang telah diset sebelumnya.
Gambar di bawah adalah rangkaian pembanding sederhana menggunakan opamp LM324. Rangkaian ini sederhana namun telah melewati serangkaian uji-coba dengan hasil yang sangat memuaskan.
Keluaran rangkaian pembanding ini dapat langsung digunakan untuk menggerakkan LED atau sebagai masukan TTL pada mikrokontroler.
Rangkaian ini telah saya implementasikan pada Pengendali Pompa Tandon Air Pensuplai Boiler dan Pengendali Pompa Tandon Air Unit Chiller di USTEGRA Malang dan telah beroperasi selama lebih dari 3 tahun, dengan perawatan sensor 2-3 bulan sekali.
T1 adalah masukan dari rangkaian sensor diatas, bisa jadi Vout1Vout2Vout3, atau Vout4. Pada gambar port keluaran bertuliskan HI untuk sensor ketinggian HI. Ini berlaku sama persis untuk ketiga sensor lainnya.
Rangkaian pembagi tegangan yang disusun oleh resistor RA1 dan RA2 memberikan tegangan pembanding sebesar (10000/14700) * 5 volt = 3,4 Volt. Sehingga masuk dalam jangkauan keluaran sensor yang berada di kisaran 1-4,8 volt.
Ketika sensor tidak terkena air, Vin(+) > Vin(-), oleh karenanya tegangan keluaran opamp akan berada di kisaran 3,5-4,5V. Dan ketika sensor terkena air, Vin(+) < Vin(-), maka tegangan keluaran akan drop menjadi 0VSangat efektif!
Berikut adalah gambar layout PCB untuk sensor ketinggian air dengan keluaran 4 level ketinggian.
Berikut adalah foto rangkaian jadi yang saya implementasikan di pabrik rol karet USTEGRA Malang.
Bagi Anda yang membutuhkan, silakan menghubungi saya melalui email atau SMS di (0341) 9857624.
Oke, selamat belajar!
:D